Entry: Bukan Salah Poligami Friday, March 09, 2007



    

.....siapa yg akan mengikuti jejak selanjutnya? Hidup Aa Gym!” Penggalan sms terakhir dari sahabat suamiku itu, membuat jantungku ketar-ketir gak karuan. Huwaaa...!!! Ada-ada aja nih orang, belum sebulan kami menikah, suamiku udah dikomporin buat poligami...Aku yang kebetulan membaca smsnya pertama kali, langsung saja menggerakkan jari jemari tangan, segera menekan tuts demi tuts mereply dengan menampakkan segala ketenangan yang ku punya. Padahal saat itu...Grrrh...!!! Emosi perempuanku mulai terbakar. ”Kalo ngikutin jejaknya Aa Gym sih tanggung, suamiku mah ngikutin jejak Nabi Muhammad aja, yang berpoligami setelah istri pertama meninggal....” balas sms ku dengan segenap kemantapan perasaan dan senyum kemenangan ....Aih..aih..:)


Semenjak berita tentang Aa Gym menjadi sorotan utama diseluruh media, sepak terjang diskusi dirumah tak luput dari arah pembicaraan “ berbagi suami “. Mhm...tak tepat memang aku menyodorkan wacana ini kedalam forum diskusi kami, disaat kami seharusnya memadu cinta dalam kemesraan pengantin baru, aku malah mencoba menggesekkan percikan-percikan yang justru akan membuahkan kecemburuan buat diriku sendiri. Poligami memang sensitif bagi perempuan. Aku hanya ingin tahu kok bagaimana pandangan suami tentang poligami, dan hebatnya suamiku ini paling jago dalam memanage perasaan dan sikap, paling pintar dalam menyelimuti kecemburuanku dengan ketenangan dan kelihaiannya. Suamiku hanya berkata ”Sayang ngomong apaan sih...” menurut suamiku ilmu kami belum mencukupi untuk membahas tentang poligami, mendiskusikan sesuatu tanpa ilmu tak akan banyak manfaat yang akan dipetik


Suamiku lebih cenderung untuk menunda mendiskusikannya, saat ini bagi dirinya tema poligami bukanlah prioritas diskusi untuk keluarga kami, keluarga baru yang justru lebih membutuhkan asupan-asupan diskusi yang mampu menjadikan kami lebih struggle dalam berjuang memaknai pengorbanan dan perjuangan cinta. Cinta yang baru saja mulai bersemi. Suamiku tidak terpengaruh dengan isu-isu yang bertebaran tentang poligami, jika aku berapi-api dalam memaparkan kisah-kisah, opini tentang poligami, suamiku hanya menganggukkan kepalanya, mendengarkan dengan seksama, dan menyerap informasi tanpa mengeluarkan banyak kata. Jika aku tanya tentang kesiapannya dalam berpoligami paling - paling kata yang terlontar dari lisannya hanyalah ” Sayang ngomong apaan sih...”


Menyikapi poligami bagi perempuan adalah suatu pilihan, dan setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi masing-masing. Pilih dan telan akibatnya. Bagi kebanyakan perempuan selain perceraian, poligami juga menjadi option yang dihindari dalam kehidupan rumah tangga. Yup..survey membuktikan bahwa kebanyakan perempuan memilih untuk tidak mengalami poligami. Berbagi suami adalah hal yang sukar untuk diterima bagi kebanyakan perempuan namun tidak menutup kemungkinan untuk dapat dijalani. Adalah bentuk kewajaran yang manusiawi bagi saya pribadi jika ada keengganan untuk berbagi cinta seorang suami kepada seseorang yang lain. Dapat dirasakan ketika perjalanan cinta baru mengembangkan layarnya. Seorang Istri menyerahkan segenap hidup dengan berbakti kepada suami tercinta. Bersedia dengan segenap ketulusan untuk mendampinginya dalam perjalanan samudra kehidupan yang panjang. Dipesisir pantai mereka berikrar untuk menjalani lautan kehidupan ini. Berdoa khusyuk agar Allah selalu menyertai dan memberkahi perjalanan yang tak selamanya akan mulus. Mereka mulai menikmati awal keberangkatan kapal rumah tangga. Lambat laun perjalanan akan diuji dengan berbagai masalah. Ada ombak yang mengombang ambingkan, ada badai yang sesekali merapuhkan, ada hujan dan petir menggelegar yang menegangkan. Tak dapat dihindari, kebocoran pun mulai tampak didalam kapal sehingga mereka harus berjuang menambalnya perlahan-lahan agar tetap bertahan berlayar. Ada iri yang menyusupi hati tatkala kapal pesiar melintas didepan perjalanan, namun semua itu tak akan mampu melumpuhkan cinta yang akan terus bersemi dan terjaga dihati. Disaat goncangan itu semua mulai terlewati...semakin lama kapal semakin kokoh berlayar, materi tercukupi bahkan berlebih. Nahkoda pun semakin gagah dan matang dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Disaat masa–masa pahit pelayaran telah terlewati dengan manis, disaat nyanyian kehidupan menunjukkan irama yang harmonis, tiba-tiba saja nahkoda menginginkan hadirnya sosok lain didalam kapal. Seseorang yang ternyata mampu melelehkan air mata dihati seorang istri.


Cinta seorang laki-laki begitu besar , tak tanggung–tanggung baginya membawakan cinta sebesar gunung untuk istri tercinta. Cinta itu mungkin menjadi terlalu besar untuk dinikmati satu perempuan saja, sehingga ia harus berbagi dengan yang lain. Namun saat gunung itu harus terbagi, luapan laharnya menyakiti hati yang lain. Mungkin ada beberapa yang bertahan dengan rasa panas itu, ada pula yang enggan untuk merasakan lahar yang mengalir dari cinta yang terbagi. Semua adalah pilihan...


Selalu ada konsekuensi dari suatu pilihan. Mungkin akan hadir kesedihan ataupun justru kebahagiaan didalamnya. Kita sebagai makhluk yang terbatas pengetahuannya tidak selalu mengetahui hikmah dibalik suatu kejadian. Allahlah yang mengetahui segalanya. Ada kalanya kebahagiaan akan hadir dari kesedihan yang mendalam. Luka hati, tangis dan amarah yang tersembunyi dan mendominasi dalam emosi kesedihan seorang perempuan mungkin tak dapat dielakkan karena hadirnya seseorang yang lain dihati suami. Ada tangisan yang menemaninya disaat itu, yang termaknai sebagai suatu pengorbanan dalam mempertahankan cinta terhadap satu laki-laki. Cinta perempuan mungkin hanyalah seujung kuku namun cinta tersebut akan terus tumbuh walaupun suatu saat kuku tersebut harus terpotong menahan sakit. Sakit akan mengundang tangis, namun jangan pernah menilai lemah tangis seorang perempuan. Tangisan mungkin hanyalah ekspresi naluriah seseorang yang sering dijumpai pada sosok bernama perempuan, namun tangisan itu kadang menyimbolkan suatu kekuatan untuk terus bertahan. Menangis untuk mengumpulkan segenap energi dalam kerapuhan asa dan cinta. Menangisi cinta untuk menyelami kedalaman cinta lain yang lebih hakiki. Biarkan ia menangis jika itu membuatnya dapat mengadukan segala resah padaNya....Biarkan ia menangis jika itu menjadikannya semakin cinta padaNya...biarkan ia menangis karenaNya...


Ustadz Ahmad Sarwat,lc (www.eramuslim.com) menjelaskan bahwa sebagaimana hukum menikah yang bisa memiliki banyak bentuk hukum, maka begitu juga dengan poligami, hukumnya sangat ditentukan oleh kondisi seseorang, bahkan bukan hanya kondisi dirinya tetapi juga menyangkut kondisi dan perasaan orang lain, dalam hal ini bisa saja isterinya atau keluarga isterinya. Pertimbangan orang lain ini tidak bisa dimentahkan begitu saja dan tentunya hal ini sangat manusiawi sekali.


Tak dapat dipungkiri...mendiskusikan poligami memang mampu membuat kaum hawa terbakar api cemburu. Ada perih yang mengiris walaupun hanya sekedar mendengar kisah. Ada luka dan tangis yang memecah sendu hati bagi yang tertakdirkan untuk menjalaninya. Tangis yang terkuak karenanya bukanlah suatu kelemahan, menerimanya dengan pasrah bukanlah bentuk kekalahan, dan menolak dipoligami dengan bijak bukanlah jua kesalahan mutlak. Namun menolaknya dengan cara menafikan poligami adalah suatu bentuk pengingkaran. Poligami sama sekali tidak dapat dinafikan dalam hukum Islam, hal tersebut adalah sesuatu yang diperbolehkan. Kontra dalam menyikapi poligami adalah hal yang berlebihan, pahamilah bahwa poligami itu diperbolehkan adalah benar.

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S 4:3)”


Maha benar Allah dengan segala firmanNya. Sebagai seorang hamba adalah hal yang mutlak untuk taat dan tunduk pada aturan hidup yang telah diturunkanNya. Allah sendiri yang telah menjanjikan bahwa tidak ada keraguan didalam kitab suci Alqur'an. Lantas atas dasar apa kita menafikan ayat-ayat yang terkandung didalamnya? Atas nama hak asasi? Sungguh Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba–hambaNya. Islam adalah rahmatanlilalamin. Ada cara yang bijak dalam berpoligami dan ada pula cara yang bijak dalam menyikapi poligami.


Tak harus berlebihan dalam menyikapi poligami. Sebagai seorang muslimah sungguh hati ini miris jika melihat para kaum feminis yang begitu menggembar–gemborkan kampanye anti poligami. Mereka seakan -akan tidak menginginkan lahirnya poligami yang sukses. Poligami dalam pandangannya hanyalah bentuk penindasan terhadap perempuan dan anak -anak. Poligami selalu kental dengan perasaan yang tersakiti ataupun seseorang yang terdzalimi. Bukankah poligami adalah suatu pilihan, jika mampu dan siap maka jalani dengan ikhlas dan bijak. Namun jika tidak mampu dipoligami maka tak harus untuk memaksakan diri, menurut saya pribadi, menolak dengan bijak bukanlah kesalahan yang mutlak asalkan tetap menyikapinya dengan cara yang tepat. Bukan menolak dengan cara mengingkari kehadirannya, padahal poligami itu sendiri diakui kebolehannya didalam kitab suci Al-Quran.


Mungkin kurang tepat bagi saya untuk memaparkan hal ini namun tak ada sama sekali maksud untuk menggurui atau mengajarkan kepada para suami atau calon suami tentang berpoligami. Saya hanya menyampaikan segenap kejujuran perasaan sebagai seorang perempuan yang gregetan terhadap wacana poligami yang saat ini begitu ramainya menjadi sorotan publik. Alangkah baiknya jika para suami berpoligami secara bijak. Ajak komunikasi istri dengan penuh kelembutan tanpa harus memaksakan. Pahami perasaan istri dan kesiapannya untuk menerima sosok lain didalam kehidupan rumah tangga yang dahulu hanya diarungi berdua saja. Didik istri dengan pemahaman yang tepat karena perasaan istri memang tak dapat dipungkiri akan merasa terluka dan tumbuh benih–benih cemburu, namun ilmu dan pemahaman yang baik akan mengantarkannya pada penyikapan yang bijak, ilmu akan mengantarkannya pada surga yang abadi. Seorang suami memiliki kewajiban untuk mendidik istrinya, mengajarkan tentang kemaslahatan dan ketaatan kepada Illahi Rabbi. Sebagai seorang istri, selama yang diajarkan adalah bentuk ketaatan kepadaNya tak ada alasan untuk memungkiri.


Kemurahan hati seorang istri untuk berbagi adalah sesuatu hal yang luar biasa.. perempuan yang luar biasa pasti akan melakukan hal yang luar biasa untuk mencapai hal yang luar biasa pula. Dialah perempuan yang terpilih. Kepada para suami tak ada salahnya untuk mengukur diri sebelum berpoligami. Apakah diri adalah seseorang yang terpilih sehingga berhak mendapatkan keikhlasan dan kemurahan hati dari seorang istri untuk mau berbagi cinta??? Mhm...mungkinkah kemurahan hati itu singgah dalam hati kecilku? Fuih...berkeringat juga saya menuliskan hal ini, ada tantangan didepan sana. Mungkin tak ada salahnya jika saya bermurah hati mengikhlaskan cinta dan perhatian suami untuk berbagi dengan perempuan yang lain, tak ada salahnya jika kemesraan suami harus dirasakan jua oleh perempuan yang lain, dan tak ada salahnya juga jika pengertian suami harus dinikmati perempuan yang lain. Tak ada yang salah...

Jika memang suatu saat nanti suamiku jatuh cinta dengan perempuan lain dan menginginkan hadirnya sosok lain didalam rumah tangga kami... rasanya tak ada salah jika saya dengan penuh keikhlasan lebih memilih untuk mengundurkan diri sebagai istrinya lagi...he..he..he..(Masih gak rela ni ye ceritanya...!!!:) )



Teruntuk suamiku..

pokokna mah.. i love u so much...

   1 comments

etikush
November 14, 2009   10:06 AM PST
 
http://etikush.blogspot.com/2009/03/aq-ingindipoligami.html

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments