Entry: Sebelum Wisuda Menyapa..... Wednesday, December 07, 2005



"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!’ (QS. Ali Imran [3] : 110).

Rasanya baru kemarin kelulusan seragam abu-abu mengantarkan diri ini pada status penuh pengorbanan sebagai seorang mahasiswi, kini detik - detik perjuangan menuju kelulusan sarjana sudah tampak jelas terlihat didepan mata. Skripsi... suka atau tidak suka akan segera menuntut perjuangan yang luar biasa untuk menuju pencapaian puncak gelar kesarjanaan. Kehadiran status sarjana yang memunculkan kebahagiaan dan kekhawatiran tersendiri didalam relung hati

Gelar sarjana walaupun meninggalkan romantika kenangan tak terlupakan bagi pribadi namun kehadirannya membawa kebahagian lain yang didamba. Toh pada akhirnya kita tak menginginkan menjadi mahasiswa selamanya bukan ? Kesarjanaan muncul sebagai indikator kesuksesan pasca kuliah dalam menyelesaikan jejalan tugas, materi, dan praktikum yang diamanahkan ke punggung tiap-tiap mahluk yang berstatus sebagai mahasiswa, Kesarjanaan merupakan parameter kebahagian bagi orang tua yang mengharapkan identitas bernilai prestise ini melekat pada keturunan darah dagingnya, Kesarjanaan sebagai suatu kebahagian yang tersimbolkan pada lembaran ijazah , transkrip nilai , dan penambahan penulisan gelar dibelakang nama sebagai bukti kerja keras selama 4 tahun didunia yang kental akan budaya ilmiah..

Namun kelulusan ini pun menorehkan kekhawatiran yang amat ditakutkan. Memunculkan kegalauan jika ternyata lulusan sarjana hanya mampu menambah daftar antrian pencari lowongan kerja , hanya mampu menyesakkan lapangan kerja yang semakin sulit dicari. Kegelisahan melanda jika disiplin ilmu yang telah ditekuni selama 4 tahun sama sekali tidak memberikan kontribusi nyata dalam dunia kerja. Rasanya senyuman orang tua yang begitu mengharap anaknya dapat segera hidup mandiri setelah kelulusan hanyalah kesemuan belaka. Kegagahan dan kepercayaan akan kemampuan dan bekal diri yang diperoleh dibangku perkuliahan untuk membahagiakan orang – orang tercinta hanya terpatri tatkala desahan napas masih berkutat dalam zona kampus, namun disaat dunia kerja nyata tertapaki segalanya terlihat begitu berbeda.

Lalu hal apa yang mungkin luput dari pertimbangan disaat perjuangan didunia kampus masih dijalani ? bagian mana yang mungkin terlewatkan dalam menjelajahi perjalanan pencarian ilmu diatmosfir kampus ?Satu hal yang patut digaris bawahi tersebut adalah rasa syukur. Kadang kita melupakan bahwa salah satu wujud rasa syukur kita terhadap sang Illahi Rabbi atas segala nikmat yang ada adalah dengan tidak menyianyiakan kesempatan yang diberikan dan senantiasa memanfaatkan setiap kesempatan tersebut dengan sebaik – baiknya. Penyadaran diri bahwa perkuliahan adalah amanah mulia dari Nya inilah yang sering terabaikan. Sehingga tidak maksimal dalam menapaki perjalanannya, tidak memberikan yang terbaik dalam setiap perbuatan yang kita jalani selama mengenyam bangku perkuliahan.Tujuan akhir hanyalah sekedar terfokuskan pada gelar sarjana semata bukan pada amal pembekalan ilmu agar tercapai ridho Illahi. Astagfirullahaladzim.

Perkuliahan patut disyukuri kehadirannya karena tidak semua orang berkesempatan untuk menikmatinya, tidak semua orang dipercayakan untuk menjajaki penelusuran ilmu dalam institusi yang ternyata membutuhkan dana yang sangat mahal ini . Perkuliahan bukanlah ajang persaingan prestise seperti yang terjadi kini, mahasiswa dengan begitu bangganya mengagungkan kekayaan harta ditengah-tengah keprihatinan ekonomi bangsa, sehingga tak sungkan- sungkan untuk mengadakan kegiatan hura - hura dengan pembiayaan yang melambung tinggi disaat daya beli masyarakat justru jatuh tiarap, menurun begitu ekstrim. Mahasiswa terlalu memaksakan diri agar tampil modis dengan mengandalkan pakaian, sepatu, dan aksesoris yang bermerek, terdoktrin oleh pemujaan akan penampilan fisik, terjajah oleh pemikiran hedonisme. walaupun harus merogoh isi kantong luar biasa besar. Perkuliahan akhirnya hanya menjadi sarana kebanggaan harta kekayaan orang tua , hanya dijadikan sebagai topeng menutupi ketidakberdayaannya.

Perkuliahan adalah suatu persaingan prestasi. Didalamnya tersebar kesempatan untuk mengembangkan potensi diri dengan perluasan ilmu dan pengalaman , terpatri budaya ilmiah yang mungkin sulit ditemukan diluar komunitas kampus, didalamnya terdapat pembelajaran yang tak sekedar bersifat akademik, namun lebih dari itu.

Pembelajaran kemandirian dalam mengelola suatu usaha bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan didunia kampus. Kampus dapat menjadi sarana potensial membangun jalinan kerja sama diantara rekan seperjuangan. Bersama menapaki kelelahan demi pengembangan suatu usaha adalah action konkrit untuk menghempaskan kekhawatiran menjadi pengangguran pasca kuliah, mengelakkan perasaan malu menjadi sarjana basi tanpa kerjaan yang pasti diakhir perkuliahan nanti. Kegigihan dalam menciptakan peluang bisnis sebelum kelulusan terjadi , setidaknya menghadirkan kemungkinan terkuranginya desakan para pencari kerja diluar sana. Jika kita menolak selamanya sebagai robot – robot cetakan budaya yang harus selalu siap disuruh maka sebelum wisuda menyapa...akan kian kerasnya berusaha menciptakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri pribadi. Jika kita enggan selamanya untuk terkekang dalam keterikatan sistem yang telah ada maka semangat membangun jiwa entrepreunership seharusnya telah terbakar sebelum toga bertahta.....

Dakwah kampus merupakan salah satu oase pengabdian seorang mahasiswa terhadap sang khalik, terlepas dari keterikatannya dalam kepengurusan suatu lembaga dakwah kampus atau tidak, karena dakwah adalah pilihan bagi siapapun yang ingin menapaki cintaNya. Dakwah merupakan perjalanan tarbiyah seorang hamba Allah yang terus menebarkan kebaikan dimana pun ia berada. Hanya saja langkah –langkah dan strategi dalam berdakwah semakin terkukuhkan dalam lembaga dakwah kampus yang notabene adalah zona kondusif yang sarat ilmu dan budaya ilmiah. Dakwah kampus merupakan batu loncatan menuju dakwah profesi. Lalu sudah seberapa jauhkah kesiapan baik diri maupun kondisi dakwah kampus untuk dapat ditinggalkan menuju dakwah profesi. seberapa siap diri kita dalam menghadapi arus diluar sana yang alirannya bukanlah sederas arus sungai lagi namun gelombang lautan yang akan kita hadapi, sudah seberapa dalam proses tarbiyah melekat dalam pribadi ? kelesuan dakwah kampus menjadi indikator begitu lemahnya tarbiyah yang tertanam dalam diri. Rasanya tak mungkin meninggalkan kondisi kampus yang kering kerontang,yang dahaga akan penyiraman semangat rukhiyah.Mungkin para aktivis terlenakan dengan target akademik, target pemenuhan materi, target lain yang terselubung dalam keegoisan.

Sebelum wisuda menyapa.......
berikan upaya yang terbaik , karya terbaik dan kesinergian antara hati, pikiran dan tenaga yang terbaik, karena kekuatan dakwah tak akan pernah hadir hanya dengan mengandalkan sisa –sisa pemikiran, materi dan tenaga. Sebelum Toga bertahta..........
Biarkan peluh keringat memainkan perannya dalam menjejaki keseharian hidup dijalan dakwah kampus , biarkan tubuh terus memproduksi asam laktat sebagai indikator kelelahan demi kebangkitan semangat rukhiyah dakwah kampus Sebelum Dakwah Profesi Meminta.......
Teruskan perjuangan otak agar semakin jitu mengatur strategi dalam merencanakan keberhasilan dakwah kampus, Teruskan perjuangan kesucian hati agar kian menciptakan keikhlasan sepenuhnya demi merasakan betapa manisnya berjuang dijalan Allahu Rabbi.

Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya. Berikanlah yang terbaik untuk setiap amal perbuatan, karena kita tercipta sebagai umat terbaik......

Wallahualam bishawab 7 desember 2005 ( 01.00 )

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments