|
Novel ini baru saja kupinjam dari seseorang , entah mengapa novel ini membuatku seperti memiliki energi untuk dapat menamatkannya malam ini juga.Padahal hari ini cukup melelahkan.Kira-kira pukul 11 siang tadi, diriku baru saja tiba dijakarta.Perjalanan sekitar 3 jam baru ku tempuh,ya… memenuhi kewajibanku sebagai layaknya anak kost.Pulang kampung.Lagipula diri ini sudah sangat merindukan ibu dan bapak dirumah.Tak akan kulupa peluk dan cium kerinduan ibu dan bapak disaat kedatangan dan kepergianku dikala itu.Orang tua adalah salah satu alasan mengapa aku harus terus berjuang sampai saat ini.Sekitar pukul 12 siang segera ku bergegas kekampus untuk mengikuti kajian jumat rutin keputrian.Tema yang dibahas cukup menarik atau malah bisa dibilang sangat menarik.”Menanti Jodoh”.Pembahasan andalan para mahasiswi tingkat tiga.Pembahasan tidak dominan mengompori untuk segera menikah, namun bagaimana menyikapi suatu penantian .Terus memperbaiki kualitas diri menjadi kunci jawaban dari pertanyaan tersebut.5 point penting yang disodorkan pembicara sebagai solusi, yaitu: Setengah dua teng aktifitasku siang itu beralih untuk menjenguk adik kelas yang kini terbaring diRumah sakit.Bis kampung melayu-Blok M mengantarkanku dan ketiga teman menuju rumah sakit Mitra Internasional.Subhanallah sudah lama aku tak melihat wajah ukhti yang satu ini.Tambah cantik ukh….bersih.Dalam hati diriku berharap semoga perjamuan dari ALLAH SWT terhadap dirimu ini membukakan pintu hikmah.Syafakillah ukh…semoga Allah SWT mengangkat penyakitmu.Amin. Tersentakku dari alam tak sadar ,kulirik jam kuning yang terpampang manis didinding kamar.Masya Allah tak terasa waktu kian berputar dengan cepatnya, mampukah diriku mengejar ridhoNYA sebelum kejaran malaikat maut menghampiri sosok yang lemah ini.Aku belum sholat Isya, terlalu terbuai dengan angan dan lelahku.Segera kuselesaikan segala kewajiban rutinku Pukul 8 malam tepat diriku telah terduduk didepan meja belajar.Malam ini kuniatkan untukmenamatkan novel yang kupinjam tadi siang, sembari ditemani kipas angin mungilku dan segelas coklat hangat.Syukur Alhamdulillah aku masih diberi kenikmatan akan aktifitas favoritku ini.Membaca dengan ditemani segelas coklat hangat mampu melayangkan diriku kedunia lain yang begitu indah. Lembaran demi lembaran mulai kucerna maknanya.Dalam rangkaian cerita begitu banyak wawasan, ilmu, tausyiah yang tak kuketahui sebelumnya.Alhamdulillah.Kadang emosiku pun ikut larut, apalagi pada konflik yang membuat perasaan wanita memuncak emosinya.Saat paman dan bibi Nurul menyampaikan lamarannya pada seorang Fahri,tokoh utama dalam Novel tersebut diriku terombang-ambing dalam permainan perasaan.Tetes kesedihan mampu kurasakan.Begitu mendalam.Ketidaksanggupan seorang wanita menahan rasa cinta terhadap pujaan hatinya tercermin pada sosok Nurul ini.Kecintaannya pada Illahi menjadikan perempuan ini mengungkapkan keinginanya agar kesucian hati tetap terjaga.Rasa takutnya terhadap Illahi mampu menjadikan dirinya bersikap lebih berani untuk melamar agar penyakit hati tidak terakumulasi.Rasa cinta yang begitu besar terhadap Fahri.Namun cinta sudah terlambat, Fahri akan segera melangsungkan pernikahan dengan Aisha.Aisha yang juga meminta pamannya untuk melamar seorang Fahri.Fahri sebenarnya mencintai Nurul,Ahwat inilah yang mampu menggetarkan hatinya, namun proses ta’aruf dengan Aisa lebih dulu terjadi.Fahri tak mungkin mengacaukan ini semua.Fahri menyesalkan mengapa Nurul tidak mengungkapkan sebelumnya, lebih awal sebelum peristiwa taaruf ini terjadi.Fahri dengan kerendahan hatinya mengganggap tidak pantas untuk seorang Nurul, seorang keturunan kiai besar dengan prestasi yang menawan.Fahri dengan prinsipnya bahwa tidak mengulurkan tangan terlebih dahulu sebelum uluran tangan wanita menyapanya, tak akan membuka hati terlebih dahulu jika tak ada wanita yang membukakannya.Nurani perempuanku bertanya, haruskah prinsip ini tertanam lekat dalam seorang lelaki,jika disatu pihak seorang mahluk menderita karenanya??Kuposisikan diriku sebagai Nurul, perasaan yang menggoreskan kepedihan.Yang tak terpahmi dari seorang Fahri atau lelaki manapun dengan prinsip ini membuat kegundahan dalam hati dan pemikirian kian berkecamuk.Jari-jariku tak sanggup lagi untuk mengungkapkan nya, menggoreskan tinta dalam tulisan.Ego dan perasaan ku termainkan, Subhanallah penulis novel ini ,Kang Abid patut kuacungkan jempol.Dengan jalan cerita yang menarik dan mampu melenakan perasaan, novel ini sangat sarat dengan ilmu dan wawasan. Keesokan hari perasaan gundah ini masih menyelimutiku, rangkaian kata-kata ingin segera kusampaikan.Rasanya semalam tak sanggup kutahan rasa kantuk itu untuk sekedar menuliskan ide-ide pokok yang terinspirasi dari novel tersebut.Walaupun dengan pemahaman dan ilmu yang masih amat sangat minim hasratku untuk menulis tak terbendung lagi.Alhasil ketika kuliah berlangsung tak sanggup lagi rasanya untuk menahan curahkan isi hati dan pikiran.Kuliah kali ini kuabaikan,ratusan kata-kata tersusun dalam diktat kuliahku, kata-kata yang sama sekali tak ada hubungannya dengan teknologi DNA atau GMO yang pada saat itu sedang dijelaskan. Tulisan yang sedikit menyingkap hal-hal sensitive pada perasaan wanita.Tulisan yang melibatkan pengalaman pribadi sebagai seorang perempuan.Tulisan yang kuharapkan menjadi pengingat pribadi agar selalu bangga menjadi seorang MUSLIMAH yang terlahir dari rahim seorang MUSLIMAH.Tulisan yang kini masih terdapat dalam lembaran malamku perjalanan 29 APRIL 2005 |
| die May 24, 2005 06:59 AM PDT wah sepertinya novel yg ukhti baca menarik banget ya..klo boleh tau apa judul novelnya dan siapa pengarangnya...sy jd ingin mbacanya..makasih ya sebelumnya...mmm...klo semua lelaki spt Fahri..bagaimana ya dgn wanita yg pemalu..jgnkan untuk melamar, mengungkapkan keinginannya atau rasa simpatinya pd si lelaki itupun tidak berani krn takut dianggap tdk pantas baik oleh lelaki itu maupun org lain... | ||
| Leave a Comment: |