“.....siapa
yg akan mengikuti jejak selanjutnya? Hidup Aa Gym!” Penggalan sms
terakhir dari sahabat suamiku itu, membuat jantungku ketar-ketir gak
karuan. Huwaaa...!!! Ada-ada aja nih orang, belum sebulan kami
menikah, suamiku udah dikomporin buat poligami...Aku yang
kebetulan membaca smsnya pertama kali, langsung saja menggerakkan
jari jemari tangan, segera menekan tuts demi tuts mereply
dengan menampakkan segala ketenangan yang ku punya. Padahal saat
itu...Grrrh...!!! Emosi perempuanku mulai terbakar. ”Kalo
ngikutin jejaknya Aa Gym sih tanggung, suamiku mah ngikutin jejak
Nabi Muhammad aja, yang berpoligami setelah istri pertama
meninggal....” balas sms ku dengan segenap kemantapan perasaan dan
senyum kemenangan ....Aih..aih..:)
Semenjak
berita tentang Aa Gym menjadi sorotan utama diseluruh media, sepak
terjang diskusi dirumah tak luput dari arah pembicaraan “ berbagi
suami “. Mhm...tak tepat memang aku menyodorkan wacana ini kedalam
forum diskusi kami, disaat kami seharusnya memadu cinta dalam
kemesraan pengantin baru, aku malah mencoba menggesekkan
percikan-percikan yang justru akan membuahkan kecemburuan buat diriku
sendiri. Poligami memang sensitif bagi perempuan. Aku hanya ingin
tahu kok bagaimana pandangan suami tentang poligami, dan hebatnya
suamiku ini paling jago dalam memanage perasaan dan sikap,
paling pintar dalam menyelimuti kecemburuanku dengan ketenangan dan
kelihaiannya. Suamiku hanya berkata ”Sayang
ngomong apaan sih...” menurut suamiku ilmu kami belum
mencukupi untuk membahas tentang poligami, mendiskusikan sesuatu
tanpa ilmu tak akan banyak manfaat yang akan dipetik
Suamiku
lebih cenderung untuk menunda mendiskusikannya, saat ini bagi dirinya
tema poligami bukanlah prioritas diskusi untuk keluarga kami,
keluarga baru yang justru lebih membutuhkan asupan-asupan diskusi
yang mampu menjadikan kami lebih struggle dalam berjuang
memaknai pengorbanan dan perjuangan cinta. Cinta yang baru saja mulai
bersemi. Suamiku tidak terpengaruh dengan isu-isu yang bertebaran
tentang poligami, jika aku berapi-api dalam memaparkan kisah-kisah,
opini tentang poligami, suamiku hanya menganggukkan kepalanya,
mendengarkan dengan seksama, dan menyerap informasi tanpa
mengeluarkan banyak kata. Jika aku tanya tentang kesiapannya dalam
berpoligami paling - paling kata yang terlontar dari lisannya
hanyalah ” Sayang ngomong apaan
sih...”
Menyikapi
poligami bagi perempuan adalah suatu pilihan, dan setiap pilihan
pasti memiliki konsekuensi masing-masing. Pilih dan telan akibatnya.
Bagi kebanyakan perempuan selain
perceraian, poligami juga menjadi option yang dihindari
dalam kehidupan rumah tangga. Yup..survey membuktikan bahwa
kebanyakan perempuan memilih untuk tidak mengalami poligami. Berbagi
suami adalah hal yang sukar untuk diterima bagi kebanyakan perempuan
namun tidak menutup kemungkinan untuk dapat dijalani. Adalah bentuk
kewajaran yang manusiawi bagi saya pribadi jika ada keengganan untuk
berbagi cinta seorang suami kepada seseorang yang lain. Dapat
dirasakan ketika perjalanan cinta baru mengembangkan layarnya.
Seorang Istri menyerahkan segenap hidup dengan berbakti kepada suami
tercinta. Bersedia dengan segenap ketulusan untuk mendampinginya
dalam perjalanan samudra kehidupan yang panjang. Dipesisir pantai
mereka berikrar untuk menjalani lautan kehidupan ini. Berdoa khusyuk
agar Allah selalu menyertai dan memberkahi perjalanan yang tak
selamanya akan mulus. Mereka mulai menikmati awal keberangkatan kapal
rumah tangga. Lambat laun perjalanan akan diuji dengan berbagai
masalah. Ada ombak yang mengombang ambingkan, ada badai yang sesekali
merapuhkan, ada hujan dan petir menggelegar yang menegangkan. Tak
dapat dihindari, kebocoran pun mulai tampak didalam kapal sehingga
mereka harus berjuang menambalnya perlahan-lahan agar tetap bertahan
berlayar. Ada iri yang menyusupi hati tatkala kapal pesiar melintas
didepan perjalanan, namun semua itu tak akan mampu melumpuhkan cinta
yang akan terus bersemi dan terjaga dihati. Disaat goncangan itu
semua mulai terlewati...semakin lama kapal semakin kokoh berlayar,
materi tercukupi bahkan berlebih. Nahkoda pun semakin gagah dan
matang dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Disaat masa–masa
pahit pelayaran telah terlewati dengan manis, disaat nyanyian
kehidupan menunjukkan irama yang harmonis, tiba-tiba saja nahkoda
menginginkan hadirnya sosok lain didalam kapal. Seseorang yang
ternyata mampu melelehkan air mata dihati seorang istri.
Cinta
seorang laki-laki begitu besar , tak tanggung–tanggung baginya
membawakan cinta sebesar gunung untuk istri tercinta. Cinta itu
mungkin menjadi terlalu besar untuk dinikmati satu perempuan saja,
sehingga ia harus berbagi dengan yang lain. Namun saat gunung itu
harus terbagi, luapan laharnya menyakiti hati yang lain. Mungkin ada
beberapa yang bertahan dengan rasa panas itu, ada pula yang enggan
untuk merasakan lahar yang mengalir dari cinta yang terbagi. Semua
adalah pilihan...
Selalu
ada konsekuensi dari suatu pilihan. Mungkin akan hadir kesedihan
ataupun justru kebahagiaan didalamnya. Kita sebagai makhluk yang
terbatas pengetahuannya tidak selalu mengetahui hikmah dibalik suatu
kejadian. Allahlah yang mengetahui segalanya. Ada kalanya kebahagiaan
akan hadir dari kesedihan yang mendalam. Luka hati, tangis dan amarah
yang tersembunyi dan mendominasi dalam emosi kesedihan seorang
perempuan mungkin tak dapat dielakkan karena hadirnya seseorang yang
lain dihati suami. Ada tangisan yang menemaninya disaat itu, yang
termaknai sebagai suatu pengorbanan dalam mempertahankan cinta
terhadap satu laki-laki. Cinta perempuan mungkin hanyalah seujung
kuku namun cinta tersebut akan terus tumbuh walaupun suatu saat kuku
tersebut harus terpotong menahan sakit. Sakit akan mengundang tangis,
namun jangan pernah menilai lemah tangis seorang perempuan. Tangisan
mungkin hanyalah ekspresi naluriah seseorang yang sering dijumpai
pada sosok bernama perempuan, namun tangisan itu kadang menyimbolkan
suatu kekuatan untuk terus bertahan. Menangis untuk mengumpulkan
segenap energi dalam kerapuhan asa dan cinta. Menangisi cinta untuk
menyelami kedalaman cinta lain yang lebih hakiki. Biarkan ia
menangis jika itu membuatnya dapat mengadukan segala resah
padaNya....Biarkan ia menangis jika itu menjadikannya semakin cinta
padaNya...biarkan ia menangis karenaNya...
Ustadz
Ahmad Sarwat,lc (www.eramuslim.com)
menjelaskan bahwa sebagaimana hukum menikah yang bisa memiliki
banyak bentuk hukum, maka begitu juga dengan poligami, hukumnya
sangat ditentukan oleh kondisi seseorang, bahkan bukan hanya kondisi
dirinya tetapi juga menyangkut kondisi dan perasaan orang lain, dalam
hal ini bisa saja isterinya atau keluarga isterinya. Pertimbangan
orang lain ini tidak bisa dimentahkan begitu saja dan tentunya hal
ini sangat manusiawi sekali.
Tak
dapat dipungkiri...mendiskusikan poligami memang mampu membuat kaum
hawa terbakar api cemburu. Ada perih yang mengiris walaupun hanya
sekedar mendengar kisah. Ada luka dan tangis yang memecah sendu hati
bagi yang tertakdirkan untuk menjalaninya. Tangis yang terkuak
karenanya bukanlah suatu kelemahan, menerimanya dengan pasrah
bukanlah bentuk kekalahan, dan menolak dipoligami dengan bijak
bukanlah jua kesalahan mutlak. Namun menolaknya dengan cara menafikan
poligami adalah suatu bentuk pengingkaran. Poligami sama sekali
tidak dapat dinafikan dalam hukum Islam, hal tersebut adalah sesuatu
yang diperbolehkan. Kontra dalam menyikapi poligami adalah hal yang
berlebihan, pahamilah bahwa poligami itu diperbolehkan adalah benar.
|
“Dan
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265],
maka (kawinilah) seorang saja[266], atau
budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat
kepada tidak berbuat aniaya. (Q.S 4:3)”
|
Maha
benar Allah dengan segala firmanNya. Sebagai seorang hamba adalah hal
yang mutlak untuk taat dan tunduk pada aturan hidup yang telah
diturunkanNya. Allah sendiri yang telah menjanjikan bahwa tidak ada
keraguan didalam kitab suci Alqur'an. Lantas atas dasar apa kita
menafikan ayat-ayat yang terkandung didalamnya? Atas nama hak asasi?
Sungguh Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba–hambaNya.
Islam adalah rahmatanlilalamin. Ada cara yang bijak dalam
berpoligami dan ada pula cara yang bijak dalam menyikapi poligami.
Tak
harus berlebihan dalam menyikapi poligami. Sebagai seorang muslimah
sungguh hati ini miris jika melihat para kaum feminis yang begitu
menggembar–gemborkan kampanye anti poligami. Mereka seakan -akan
tidak menginginkan lahirnya poligami yang sukses. Poligami dalam
pandangannya hanyalah bentuk penindasan terhadap perempuan dan anak
-anak. Poligami selalu kental dengan perasaan yang tersakiti ataupun
seseorang yang terdzalimi. Bukankah poligami adalah suatu pilihan,
jika mampu dan siap maka jalani dengan ikhlas dan bijak. Namun jika
tidak mampu dipoligami maka tak harus untuk memaksakan diri,
menurut saya pribadi, menolak dengan bijak bukanlah kesalahan yang
mutlak asalkan tetap menyikapinya dengan cara yang tepat. Bukan
menolak dengan cara mengingkari kehadirannya, padahal poligami itu
sendiri diakui kebolehannya didalam kitab suci Al-Quran.
Mungkin
kurang tepat bagi saya untuk memaparkan hal ini namun tak ada sama
sekali maksud untuk menggurui atau mengajarkan kepada para suami atau
calon suami tentang berpoligami. Saya hanya menyampaikan segenap
kejujuran perasaan sebagai seorang perempuan yang gregetan
terhadap wacana poligami yang saat ini begitu ramainya menjadi
sorotan publik. Alangkah baiknya jika para suami berpoligami secara
bijak. Ajak komunikasi istri dengan penuh kelembutan tanpa harus
memaksakan. Pahami perasaan istri dan kesiapannya untuk menerima
sosok lain didalam kehidupan rumah tangga yang dahulu hanya diarungi
berdua saja. Didik istri dengan pemahaman yang tepat karena perasaan
istri memang tak dapat dipungkiri akan merasa terluka dan tumbuh
benih–benih cemburu, namun ilmu dan pemahaman yang baik akan
mengantarkannya pada penyikapan yang bijak, ilmu akan
mengantarkannya pada surga yang abadi. Seorang suami memiliki
kewajiban untuk mendidik istrinya, mengajarkan tentang kemaslahatan
dan ketaatan kepada Illahi Rabbi. Sebagai seorang istri, selama yang
diajarkan adalah bentuk ketaatan kepadaNya tak ada alasan untuk
memungkiri.
Kemurahan hati seorang istri untuk berbagi adalah sesuatu hal yang
luar biasa.. perempuan yang luar biasa pasti akan melakukan hal yang
luar biasa untuk mencapai hal yang luar biasa pula. Dialah perempuan
yang terpilih. Kepada para suami tak ada salahnya untuk mengukur diri
sebelum berpoligami. Apakah diri adalah seseorang yang terpilih
sehingga berhak mendapatkan keikhlasan dan kemurahan hati dari
seorang istri untuk mau berbagi cinta??? Mhm...mungkinkah kemurahan
hati itu singgah dalam hati kecilku? Fuih...berkeringat juga saya
menuliskan hal ini, ada tantangan didepan sana. Mungkin tak ada
salahnya jika saya bermurah hati mengikhlaskan cinta dan perhatian
suami untuk berbagi dengan perempuan yang lain, tak ada salahnya jika
kemesraan suami harus dirasakan jua oleh perempuan yang lain, dan tak
ada salahnya juga jika pengertian suami harus dinikmati perempuan
yang lain. Tak ada yang salah...
Jika
memang suatu saat nanti suamiku jatuh cinta dengan perempuan lain dan
menginginkan hadirnya sosok lain didalam rumah tangga kami... rasanya
tak ada salah jika saya dengan penuh keikhlasan lebih memilih untuk
mengundurkan diri sebagai istrinya lagi...he..he..he..(Masih gak rela
ni ye ceritanya...!!!:) )
Teruntuk
suamiku..
pokokna
mah.. i love u so much...